Tugas Mandiri 10 - Analisis Dokumenter Produksi Berkelanjutan


A. Identitas Video dan Ringkasan

Judul Video/Dokumenter: "The Business Logic of Sustainability" oleh Ray Anderson
Sumber: TED Talk/Dokumenter terkait Ekonomi Sirkular
Platform/Tahun: TED / Interface Carpet (pendiri perusahaan)
Tokoh Utama: Ray Anderson (Pendiri Interface Carpet)

Ringkasan: Video ini menyampaikan bagaimana Ray Anderson, pendiri perusahaan karpet Interface, mengubah model bisnis perusahaannya dari linear menjadi sirkular dengan mengadopsi prinsip keberlanjutan. Anderson menjelaskan mengapa keberlanjutan bukan hanya kewajiban moral tetapi juga strategi bisnis yang menguntungkan.

B. Analisis Ide Kunci dan Penerapannya




C. Kesimpulan dan Refleksi

Kesimpulan umum mengenai urgensi Produksi Berkelanjutan:

Dokumenter "The Business Logic of Sustainability" menunjukkan bahwa produksi berkelanjutan bukan sekadar isu lingkungan, tetapi keharusan bisnis strategis di abad 21. Ray Anderson membuktikan bahwa perusahaan dapat menguntungkan sambil mengurangi dampak negatif terhadap planet. Urgensinya sangat tinggi karena sumber daya alam semakin menipis, regulasi lingkungan semakin ketat, dan konsumen semakin sadar memilih produk ramah lingkungan.

Refleksikan dampak pribadi setelah menonton:

Setelah menonton dokumenter ini, pandangan saya terhadap "Logika Bisnis Keberlanjutan" berubah secara signifikan. Awalnya saya menganggap keberlanjutan sebagai biaya tambahan yang mengurangi profit. Namun, Ray Anderson membuktikan sebaliknya - dengan inovasi seperti model leasing dan closed-loop manufacturing, Interface justru meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya hingga 30%.

Yang paling menginspirasi adalah bagaimana Anderson mengubah mindset dari "take-make-waste" menjadi "reduce-reuse-recycle". Ini mengajarkan bahwa keberlanjutan dimulai dari cara kita memandang limbah - bukan sebagai sampah, tetapi sebagai "nutrient" untuk siklus produksi berikutnya. Saya jadi lebih memahami pentingnya ekonomi sirkular dan bagaimana setiap sektor industri bisa mengadopsi prinsip ini dengan strategi yang disesuaikan.


Tugas Mandiri 11 - Pemetaan Potensi Alur Balik Produk (Reverse Logistics)

 

PEMETAAN POTENSI ALUR BALIK PRODUK

(Reverse Logistics)

Studi Kasus: Printer Cartridge Bekas di Indonesia

1. PENDAHULUAN

Ø  Pemilihan Produk

Produk yang dipilih untuk analisis reverse logistics adalah printer cartridge bekas (tinta dan toner), yang mencakup cartridge inkjet berbasis tinta cair dan cartridge laser berbasis toner dari berbagai merek seperti HP, Canon, Epson, dan Brother.

Ø  Alasan Pemilihan

1.      Volume Limbah Signifikan: Indonesia memiliki jutaan printer aktif yang menghasilkan jutaan cartridge bekas per tahun. Rata-rata cartridge memiliki masa pakai 200-500 halaman untuk inkjet dan 1.500-3.000 halaman untuk laser.

2.      Potensi Ekonomi Tinggi: Harga cartridge baru berkisar Rp 150.000 - Rp 2.000.000 per unit. Cartridge remanufaktur dapat dijual 40-60% dari harga baru, sementara material plastik dan komponen elektronik memiliki nilai daur ulang.

3.      Dampak Lingkungan: Material non-biodegradable (plastik, logam berat) dan bahan kimia berbahaya (B3) dapat mencemari tanah dan air. Cartridge membutuhkan 450-1000 tahun untuk terurai di TPA.

Sistem yang Sudah Ada: Beberapa produsen global menjalankan program take-back dan terdapat industri refill yang berkembang di Indonesia dengan potensi optimalisasi.

2. KONDISI SAAT INI

Ø  Alur Maju (Forward Flow)

Distribusi printer cartridge di Indonesia mengikuti alur: Produsen Global → Importir/Distributor Resmi → Grosir/Sub-Distributor → Toko Retail Modern (Erafone, Best Denki), Toko Komputer (Mangga Dua, ITC), dan E-commerce (Tokopedia, Shopee) → Konsumen Akhir (rumah tangga, kantor, UMKM, institusi). Distribusi didominasi produk original brand dan compatible/pihak ketiga, dengan harga original yang relatif mahal mendorong pasar refill.

Ø  Pengelolaan Limbah Saat Ini






3.      ANALISIS POTENSI REVERSE LOGISTICS

 

Ø  Identifikasi Nilai (Value Recovery)

 

1.      Pilihan Utama: Remanufaktur (Remanufacturing)

Remanufaktur dipilih sebagai jalur nilai utama karena memberikan nilai ekonomi dan lingkungan tertinggi. Proses meliputi: pengumpulan cartridge bekas → sortir dan inspeksi kelayakan → pembongkaran komponen (casing, chip, drum) → pembersihan dengan ultrasonic cleaner → penggantian parts yang rusak → perakitan ulang → pengisian tinta/toner → quality control → packaging sebagai produk remanufactured.

Keunggulan:

• Kualitas mendekati produk baru (90-95%)

• Harga 40-60% lebih murah dari original

• Mengurangi limbah hingga 95% dibanding produksi baru

• Energy saving 50-70% vs produksi baru

Opsi Tambahan: Reuse/Perbaikan melalui refill (sudah berjalan optimal di Indonesia) dan Recycling untuk cartridge yang tidak layak remanufaktur (nilai ekonomi rendah namun penting untuk pengelolaan limbah B3).

Ø  Usulan Alur Balik Ideal

 

Prinsip Desain: Mengintegrasikan ekosistem refill yang sudah ada, memanfaatkan infrastruktur existing, memberikan insentif ekonomi jelas di setiap level, dan fokus pada remanufaktur sebagai value recovery utama.

A. Titik Inisiasi Pengembalian: KONSUMEN sebagai Pemicu Utama

1) Drop Box Publik (Target: 5.000 lokasi nasional) - Ditempatkan di toko retail modern (Erafone, Best Denki), minimarket (Indomaret, Alfamart), kantor pos, dan bank sampah digital. Konsumen mendapat voucher Rp 10.000-50.000 per cartridge langsung ke e-wallet.

2) Program Trade-In di Toko Refill (Target: 10.000 toko) - Konsumen tukar cartridge bekas + uang untuk cartridge remanufaktur dengan diskon 20-30%. Toko refill bertindak sebagai micro-aggregator.

3) Pick-Up Service untuk Institusi (Target: 500 klien korporat) - Schedule pick-up rutin untuk kantor, sekolah, rumah sakit dengan payment per unit dan laporan sustainability untuk CSR.

B. Aliran Logistik Balik

Tahap 1 - Pengumpulan Lokal: Drop point → Aggregator Hub Regional menggunakan van/pickup (2-3x/minggu kota besar, 1x/minggu kota kecil) melalui partnership dengan JNE, J&T, SiCepat.

Tahap 2 - Konsolidasi: 12 Hub Regional (Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Bali, Palembang, Balikpapan, Pontianak, Manado, Jayapura) → National Remanufacturing Center menggunakan truk kontainer (1-2x/minggu).

Fungsi Hub Regional: sortir berdasarkan brand & model, grading (A: layak remanufaktur, B: refill, C: recycle), konsolidasi shipment, dan payment ke drop point.

C. Destinasi Akhir: National Remanufacturing Center

Lokasi Strategis:

• Primary Center: Karawang/Cikarang (Jawa Barat) - Kapasitas 500.000 cartridge/bulan, dekat consumer market terbesar dan pelabuhan

• Secondary Center: Surabaya (Jawa Timur) - Kapasitas 200.000 cartridge/bulan, melayani Indonesia Timur

• Tertiary Center: Batam (opsional) - Kapasitas 150.000 cartridge/bulan, zona perdagangan bebas

Output Processing:

• 60% → Remanufactured cartridge (kualitas premium)

• 25% → Refurbished cartridge (kualitas ekonomis)

• 15% → Recycled materials (plastik granul, logam)


 

4.      TANTANGAN DAN REKOMENDASI

 

1.      Tantangan Utama

 

Tantangan 1: Biaya Logistik Reverse yang Tinggi

Pengumpulan cartridge bekas dari ribuan lokasi tersebar memerlukan biaya logistik signifikan (estimasi Rp 8.000-10.000 per unit). Geografi Indonesia yang luas dengan pulau-pulau terpisah membuat konsolidasi tidak efisien. Cartridge memiliki nilai per unit relatif rendah dibanding ukurannya, sehingga biaya transportasi bisa melebihi nilai material yang didapat. Untuk mencapai break-even point, sistem harus mengumpulkan minimal 50.000-100.000 cartridge per bulan, yang memerlukan investasi infrastruktur besar di awal.

Tantangan 2: Kesadaran dan Partisipasi Konsumen Rendah

Mayoritas konsumen Indonesia (>85%) tidak mengetahui bahwa cartridge adalah limbah B3 yang memerlukan penanganan khusus. Tidak ada kebiasaan atau budaya untuk mengembalikan produk bekas (tidak seperti botol kaca yang ada nilai tukar). Konsumen tidak melihat manfaat langsung dari mengembalikan cartridge bekas karena tidak ada insentif menarik atau mudah diakses. Program brand resmi yang ada (HP, Canon) memiliki awareness sangat rendah (<5% konsumen tahu), sehingga partisipasi minimal.

2.       Rekomendasi Spesifik

Rekomendasi: Implementasi Model Hybrid dengan Insentif Multi-Level

A. Partnership dengan Ekosistem Existing

Bermitra dengan 10.000+ toko refill yang sudah ada sebagai micro-aggregator. Mereka sudah memiliki customer base dan traffic. Berikan insentif Rp 5.000 per cartridge yang dikumpulkan ke toko, sehingga mereka termotivasi mengumpulkan cartridge yang sudah tidak bisa di-refill (yang biasanya dibuang). Manfaatkan jaringan minimarket (Indomaret, Alfamart) dengan 20.000+ outlet nasional sebagai drop point dengan revenue sharing model. Integrasikan dengan layanan kurir existing (JNE, J&T) yang sudah memiliki infrastruktur last-mile delivery untuk optimasi logistik balik.

B. Insentif Digital yang Menarik

Sistem voucher digital otomatis (Rp 15.000-50.000 tergantung tipe cartridge) langsung masuk ke e-wallet (GoPay, OVO, DANA) saat konsumen drop cartridge dan scan QR code. Gamifikasi dengan poin loyalitas yang bisa ditukar produk atau diskon pembelian cartridge remanufaktur berikutnya. Program referral: konsumen dapat bonus jika mengajak orang lain ikut program (viral marketing). Leaderboard bulanan dengan hadiah untuk konsumen/institusi dengan kontribusi terbanyak, menciptakan kompetisi positif.

C. Kampanye Edukasi dan Regulasi

Kampanye masif melalui media sosial, influencer, dan kerjasama dengan institusi pendidikan tentang dampak limbah cartridge. Label wajib pada packaging cartridge baru: "Limbah B3 - Kembalikan ke Drop Point" dengan QR code ke lokasi terdekat. Lobby untuk regulasi Extended Producer Responsibility (EPR) yang mewajibkan produsen cartridge berkontribusi pada sistem reverse logistics (deposit-refund scheme). Insentif pajak untuk perusahaan yang menggunakan cartridge remanufaktur (CSR compliance).

D. Pilot Project dan Scale-Up Bertahap

Mulai dengan pilot project di Jabodetabek (market terbesar, 40% konsumsi nasional) selama 6-12 bulan untuk proof of concept. Target pengumpulan 100.000 cartridge/bulan dengan 500 drop point dan 2.000 toko refill partner. Ukur: participation rate, cost per unit collected, quality of collected items, dan customer satisfaction. Setelah model terbukti menguntungkan dan operasional smooth, scale-up ke 5 kota besar berikutnya (Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, Semarang), kemudian ekspansi nasional dalam 3 tahun.

5.      Diagram Alir











KESIMPULAN

Sistem reverse logistics untuk printer cartridge di Indonesia memiliki potensi besar namun saat ini belum efektif. Melalui model hybrid yang mengintegrasikan ekosistem existing, insentif digital menarik, kampanye edukasi masif, dan dukungan regulasi EPR, sistem ini dapat menjadi berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan. Implementasi bertahap dimulai dari pilot project di Jabodetabek akan meminimalkan risiko sambil memvalidasi model bisnis sebelum scale-up nasional.








Tugas Terstruktur 05 - Life Cycle Thinking (LCT) dan Analisis Dampak Lingkungan Produk Konsumsi

 

#Alasan Pemilihan Produk

Botol minum stainless steel dipilih karena relevansinya yang tinggi terhadap isu keberlanjutan kontemporer. Produk ini sering dipromosikan sebagai alternatif ramah lingkungan pengganti botol plastik sekali pakai yang berkontribusi terhadap krisis polusi plastik global. Namun, klaim "sustainable" ini perlu dievaluasi secara kritis melalui pendekatan Life Cycle Thinking untuk memahami trade-off lingkungan yang sesungguhnya. Dengan konsumsi botol plastik di Indonesia mencapai 16,8 miliar unit per tahun, transisi ke produk reusable seperti botol stainless steel menjadi strategi penting dalam ekonomi sirkular.


#Batas Sistem dan Justifikasi

Analisis ini menggunakan pendekatan cradle-to-grave dengan sistem terbuka yang mencakup seluruh siklus hidup dari ekstraksi bahan baku hingga pengelolaan akhir masa pakai, termasuk potensi daur ulang. Batas sistem mencakup: 

(1) ekstraksi dan pengolahan bahan baku, 

(2) proses manufaktur dan perakitan,

 (3) distribusi global dan lokal, 

(4) fase penggunaan selama 7 tahun, dan 

(5) skenario end-of-life dengan tiga opsi disposal.

Yang dikecualikan dari analisis: infrastruktur pabrik (dianggap terdistribusi di banyak produk), R&D, marketing, dan transportasi konsumen ke titik pembelian (variabel tinggi). Fase penggunaan diasumsikan berdampak rendah karena produk bersifat pasif, namun pencucian harian tetap diperhitungkan.


#Potensi Dampak Lingkungan per Tahap

1. Tahap Ekstraksi dan Produksi merupakan hotspot dampak terbesar. Produksi stainless steel sangat intensif energi dengan jejak karbon 4-6 kg CO₂e per kg material. Untuk botol 200 gram, emisi produksi mencapai 0,8-1,2 kg CO₂e. Penambangan nikel dan chromium menyebabkan degradasi habitat, kontaminasi air asam tambang, dan konsumsi air sekitar 20-40 liter per kg logam. Proses peleburan pada suhu 1.400-1.500°C menghasilkan emisi partikulat dan SOx.

2. Tahap Distribusi berkontribusi sekitar 0,3-0,5 kg CO₂e untuk transportasi lintas benua (4.000 km). Meskipun signifikan, dampak ini dapat diamortisasi jika produk digunakan untuk menggantikan ratusan botol plastik selama masa pakainya.

3. Tahap Konsumsi relatif rendah dampaknya, namun pencucian harian dengan air panas dan detergen mengkonsumsi sekitar 2.500 liter air dan 0,7 kg detergen selama 7 tahun, dengan jejak karbon kumulatif ±50 kg CO₂e.

4. Tahap End-of-Life menentukan keberlanjutan jangka panjang. Daur ulang stainless steel dapat menghemat hingga 70% energi dibanding produksi virgin material, namun memerlukan sistem pengumpulan yang efisien. Di Indonesia, tingkat daur ulang logam masih rendah (±40%), sehingga banyak material berakhir di landfill.


#Refleksi: Strategi Pengurangan Dampak

Untuk meningkatkan keberlanjutan produk, beberapa strategi dapat diterapkan:

 (1) Design for longevity dengan komponen modular yang mudah diganti (seal, tutup) untuk memperpanjang masa pakai hingga 10+ tahun, 

(2) Material lokal: sourcing stainless steel dari produsen regional untuk mengurangi emisi transportasi, 

(3) Closed-loop system: implementasi program take-back untuk memastikan daur ulang di akhir masa pakai, 

(4) Lightweight design: optimasi ketebalan dinding botol untuk mengurangi material tanpa mengorbankan durabilitas, dan 

(5) Transparansi EPD (Environmental Product Declaration) untuk memberdayakan konsumen membuat pilihan berdasarkan data dampak aktual.

-> Analisis ini menegaskan bahwa produk "hijau" tetap memiliki beban lingkungan signifikan pada tahap produksi, namun dapat mengompensasinya melalui masa pakai panjang dan substitusi produk sekali pakai—dengan syarat konsumen menggunakan produk minimal 3-5 tahun untuk mencapai break-even point lingkungan.

Tugas Terstruktur 09 - Analisis Desain Produk dengan Prinsip DfE


 

Analisis Desain Awal:

a. Fungsi Utama Produk

  • Wadah untuk menyimpan cairan shampoo.
  • Memudahkan konsumen menuangkan shampoo ketika digunakan.
  • Melindungi isi dari kontaminasi, kebocoran, dan paparan udara.

b. Material yang Digunakan

  • Botol utama: Plastik PET (Polyethylene Terephthalate).
  • Tutup flip: Plastik PP (Polypropylene).
  • Label stiker: Film plastik + tinta cetak.
  • Isi produk: Shampoo berbahan surfaktan, pewangi, zat pengental, air.

c. Pengamatan Elemen Desain

  • Bentuk: Silinder oval, leher sempit, tutup cukup tebal.
  • Ukuran: 18 cm tinggi, kapasitas 300 ml.
  • Warna: Botol berwarna biru/hijau solid, transparansi rendah.
  • Desain: Banyak elemen dekoratif pada label, menggunakan tinta warna tebal.
  • Komponen: Botol dan tutup tidak mudah dipisahkan oleh pengguna.

Identifikasi Masalah Lingkungan Sesuai Prinsip DfE:

a. Material

  • PET dan PP adalah plastik yang bisa didaur ulang, namun warna gelap membuat daur ulang lebih sulit.
  • Label menggunakan film plastik + tinta tebal → sulit dipisahkan saat proses recycling.
  • Produk mengandung bahan kimia sintetis yang dapat mencemari air bila tidak diolah dengan benar.

b. Produksi

  • Proses blow molding untuk botol PET membutuhkan energi cukup tinggi.
  • Penggunaan pewarna solid pada botol menambah proses tambahan dalam manufaktur.
  • Label multi-layer meningkatkan penggunaan material tambahan.

c. Penggunaan

  • Botol tidak dirancang untuk refill, sehingga cenderung sekali pakai.
  • Konsumen cenderung membuang botol sebelum benar-benar kosong karena bentuk bagian bawah menyisakan cairan.

d. Akhir Siklus Hidup

  • Botol dan tutup berbeda material → harus dipisahkan untuk daur ulang, namun pengguna jarang melakukannya.
  • Label plastik sulit dilepas dan mengganggu proses recycling.
  • Warna gelap mengurangi nilai jual daur ulang.
Rekomendasi Perbaikan Desain

Rekomendasi 1: 
  • Gunakan Material Warna Transparan
  • Ganti botol dari warna solid menjadi transparan bening.
Alasan:
  • Mudah didaur ulang dan diterima lebih banyak fasilitas daur ulang.
  • Konsumen bisa melihat sisa isi sehingga mengurangi pemborosan.
Rekomendasi 2: Desain “Refill-friendly”
  • Buat botol yang bisa diisi ulang (reusable) atau bentuk yang kompatibel dengan sistem isi ulang di minimarket/supermarket.
Alasan:
  • Mengurangi konsumsi plastik per penggunaan.
  • Memperpanjang umur pakai wadah.
Rekomendasi 3: Kurangi Komponen Label
  • Gunakan label berbahan kertas yang mudah terlepas, atau sablon langsung pada botol (direct printing).
Alasan:
  • Mengurangi limbah plastik.
  • Mempermudah proses daur ulang sehingga botol bisa diproses tanpa pemisahan intensif.

Tugas Terstruktur 03 - Ekologi Industri vs. Ekologi Konvensional

 


Tugas Mandiri 07 - Menonton dan Merangkum Video tentang LCIA & Interpretation

 


Tugas Mandiri 06 - Observasi Produk dan Analisis Input–Output Berdasarkan ISO 14040

Ringkasan ISO 14040: Prinsip dan Kerangka Kerja LCA

ISO 14040:2006 menjelaskan prinsip dan kerangka kerja untuk Life Cycle Assessment (LCA), yang mencakup: definisi tujuan dan ruang lingkup LCA, fase Life Cycle Inventory Analysis (LCI), fase Life Cycle Impact Assessment (LCIA), fase interpretasi siklus hidup, pelaporan dan tinjauan kritis LCA, keterbatasan LCA, hubungan antar fase LCA, dan kondisi penggunaan pilihan nilai serta elemen opsional.

Empat Tahapan Utama LCA:

Kerangka kerja ISO 14040 terbentuk dari empat tahapan berbeda yang meliputi Goal and Scope Definition (Definisi Tujuan dan Ruang Lingkup), Inventory Analysis (Analisis Inventaris), Impact Assessment (Penilaian Dampak), dan Interpretation (Interpretasi).

ISO 14040 memberikan prinsip-prinsip dasar dan kerangka kerja untuk LCA, mendefinisikan apa itu siklus hidup produk dan memberikan panduan tingkat tinggi untuk setiap fase proses LCA, mulai dari menetapkan tujuan dan menentukan ruang lingkup studi hingga menginterpretasikan hasilnya.

Penjelasan Setiap Tahap:

  1. Goal and Scope Definition – Definisi ruang lingkup lebih kompleks daripada definisi tujuan. Ini mencakup pendefinisian batas sistem produk, unit fungsional, parameter data, target kualitas data, dan metode penilaian dampak.
  2. Life Cycle Inventory Analysis (LCI) – Setelah batas sistem produk ditetapkan, input material dan energi ke setiap proses unit serta output (seperti produk, co-product, dan emisi) dari setiap proses unit dikumpulkan dan kemudian dinormalisasi ke massa unit dari setiap proses unit.
  3. Life Cycle Impact Assessment (LCIA) – Pada tahap ini, data inventaris dikaitkan dengan dampak lingkungan spesifik dan menilai besarannya. Kategori dampak biasanya mencakup potensi pemanasan global, penipisan ozon, eutrofikasi, pengasaman, dan penipisan sumber daya.
Interpretation – Mengevaluasi hasil dalam kaitannya dengan tujuan dan ruang lingkup yang telah ditetapkan, termasuk pemeriksaan sensitivitas dan menarik kesimpulan dengan wawasan yang dapat ditindaklanjuti.

Identifikasi Produk
Aspek Keterangan
Nama Produk Hand Sanitizer Gel 100ml
Fungsi Utama Membersihkan dan mendisinfeksi tangan tanpa air

Tabel Input-Output Setiap Tahap
Tahap Produksi Input Utama Output Utama
Produksi bahan baku Minyak bumi, tebu/jagung (untuk etanol), air, energi, bahan kimia Emisi CO2, limbah cair, residu kimia, limbah biomassa
Proses manufaktur Etanol, gliserin, hidrogen peroksida, air murni, energi listrik Produk jadi, limbah cair, uap alkohol, limbah B3, panas buangan
Produksi kemasan Resin plastik (HDPE/PET), minyak bumi, energi, tinta, kertas Botol plastik, emisi proses, scrap plastik, VOC dari tinta
Pengemasan Botol, tutup, label, kardus, shrink wrap, energi mesin Produk terkemas, sisa label, sisa karton, kemasan reject
Distribusi Bahan bakar (solar/bensin), kendaraan, palet, tenaga kerja Emisi transportasi (CO₂, NOx, PM2.5), kemasan rusak, keausan kendaraan

Refleksi Singkat

Apa yang saya pelajari: Observasi ini mengajarkan bahwa produk sederhana seperti hand sanitizer memiliki rantai produksi yang kompleks. Setiap tahap produksi memerlukan berbagai input dan menghasilkan output yang berdampak pada lingkungan. Saya menjadi lebih sadar bahwa dampak lingkungan tidak hanya terlihat dari sampah kemasan, tetapi juga dari emisi dan limbah tersembunyi di sepanjang siklus hidup produk.

Modifikasi untuk mengurangi dampak lingkungan: Produsen dapat menggunakan kemasan refill, beralih ke bioetanol berkelanjutan, menerapkan desain botol lebih ringan (lightweighting), dan menggunakan plastik daur ulang (rPET). Selain itu, optimalisasi rute distribusi dapat mengurangi emisi transportasi.

Peran konsumen: Konsumen berperan penting dalam siklus hidup produk dengan cara: memilih produk berkemasan ramah lingkungan, membeli ukuran ekonomis untuk mengurangi limbah kemasan, mendaur ulang botol bekas dengan benar, dan mendukung produsen yang menerapkan praktik produksi berkelanjutan.

Tugas Mandiri 10 - Analisis Dokumenter Produksi Berkelanjutan

A. Identitas Video dan Ringkasan Judul Video/Dokumenter: "The Business Logic of Sustainability" oleh Ray Anderson Sumber: TED...