Tugas Terstruktur 05 - Life Cycle Thinking (LCT) dan Analisis Dampak Lingkungan Produk Konsumsi

 

#Alasan Pemilihan Produk

Botol minum stainless steel dipilih karena relevansinya yang tinggi terhadap isu keberlanjutan kontemporer. Produk ini sering dipromosikan sebagai alternatif ramah lingkungan pengganti botol plastik sekali pakai yang berkontribusi terhadap krisis polusi plastik global. Namun, klaim "sustainable" ini perlu dievaluasi secara kritis melalui pendekatan Life Cycle Thinking untuk memahami trade-off lingkungan yang sesungguhnya. Dengan konsumsi botol plastik di Indonesia mencapai 16,8 miliar unit per tahun, transisi ke produk reusable seperti botol stainless steel menjadi strategi penting dalam ekonomi sirkular.


#Batas Sistem dan Justifikasi

Analisis ini menggunakan pendekatan cradle-to-grave dengan sistem terbuka yang mencakup seluruh siklus hidup dari ekstraksi bahan baku hingga pengelolaan akhir masa pakai, termasuk potensi daur ulang. Batas sistem mencakup: 

(1) ekstraksi dan pengolahan bahan baku, 

(2) proses manufaktur dan perakitan,

 (3) distribusi global dan lokal, 

(4) fase penggunaan selama 7 tahun, dan 

(5) skenario end-of-life dengan tiga opsi disposal.

Yang dikecualikan dari analisis: infrastruktur pabrik (dianggap terdistribusi di banyak produk), R&D, marketing, dan transportasi konsumen ke titik pembelian (variabel tinggi). Fase penggunaan diasumsikan berdampak rendah karena produk bersifat pasif, namun pencucian harian tetap diperhitungkan.


#Potensi Dampak Lingkungan per Tahap

1. Tahap Ekstraksi dan Produksi merupakan hotspot dampak terbesar. Produksi stainless steel sangat intensif energi dengan jejak karbon 4-6 kg CO₂e per kg material. Untuk botol 200 gram, emisi produksi mencapai 0,8-1,2 kg CO₂e. Penambangan nikel dan chromium menyebabkan degradasi habitat, kontaminasi air asam tambang, dan konsumsi air sekitar 20-40 liter per kg logam. Proses peleburan pada suhu 1.400-1.500°C menghasilkan emisi partikulat dan SOx.

2. Tahap Distribusi berkontribusi sekitar 0,3-0,5 kg CO₂e untuk transportasi lintas benua (4.000 km). Meskipun signifikan, dampak ini dapat diamortisasi jika produk digunakan untuk menggantikan ratusan botol plastik selama masa pakainya.

3. Tahap Konsumsi relatif rendah dampaknya, namun pencucian harian dengan air panas dan detergen mengkonsumsi sekitar 2.500 liter air dan 0,7 kg detergen selama 7 tahun, dengan jejak karbon kumulatif ±50 kg CO₂e.

4. Tahap End-of-Life menentukan keberlanjutan jangka panjang. Daur ulang stainless steel dapat menghemat hingga 70% energi dibanding produksi virgin material, namun memerlukan sistem pengumpulan yang efisien. Di Indonesia, tingkat daur ulang logam masih rendah (±40%), sehingga banyak material berakhir di landfill.


#Refleksi: Strategi Pengurangan Dampak

Untuk meningkatkan keberlanjutan produk, beberapa strategi dapat diterapkan:

 (1) Design for longevity dengan komponen modular yang mudah diganti (seal, tutup) untuk memperpanjang masa pakai hingga 10+ tahun, 

(2) Material lokal: sourcing stainless steel dari produsen regional untuk mengurangi emisi transportasi, 

(3) Closed-loop system: implementasi program take-back untuk memastikan daur ulang di akhir masa pakai, 

(4) Lightweight design: optimasi ketebalan dinding botol untuk mengurangi material tanpa mengorbankan durabilitas, dan 

(5) Transparansi EPD (Environmental Product Declaration) untuk memberdayakan konsumen membuat pilihan berdasarkan data dampak aktual.

-> Analisis ini menegaskan bahwa produk "hijau" tetap memiliki beban lingkungan signifikan pada tahap produksi, namun dapat mengompensasinya melalui masa pakai panjang dan substitusi produk sekali pakai—dengan syarat konsumen menggunakan produk minimal 3-5 tahun untuk mencapai break-even point lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tugas Mandiri 10 - Analisis Dokumenter Produksi Berkelanjutan

A. Identitas Video dan Ringkasan Judul Video/Dokumenter: "The Business Logic of Sustainability" oleh Ray Anderson Sumber: TED...